Blog

  • 4 Pemanis Vegan Untuk Maniskan Takjilmu!

    May 1, 2020
    /
    Food , Health , Veganism
    4 Pemanis Vegan Untuk Maniskan Takjilmu! image

    Terlalu banyak makan manis tentu tidak disarankan karena akan berdampak buruk bagi kesehatan. Meminimalisir penggunaan pemanis buatan tentu sangatlah vital. Madu tentunya bukan pilihan pengganti gula pasir. Lantas, pemanis apa yang bisa digunakan vegan selain gula pasir biasa?

    Jika kamu sedang mencari alternatif pemanis yang lebih sehat dan tentunya aman untuk vegan, berikut Plantful sudah rangkum 4 pemanis vegan yang bisa kamu konsumsi dengan aman dan tentunya dapat membuat takjilmu semakin nikmat!

    Sirup Agave/Nektar


    Pemanis yang rasanya lebih manis dari gula atau madu ini terbuat dari getah tanaman agave. Teksturnya tak sekental madu sehingga sangat cocok untuk dicampur dengan minuman favoritmu karena sirup agave lebih mudah mencair.

    Sirup agave juga memiliki kandungan indeks glikemik yang jauh lebih rendah dari pada gula pasir biasa. Walau begitu, sirup agave tetap tinggi fruktosa sehingga disarankan untuk tidak menggunakannya berlebihan, ya! Yang berlebihan kan tidak sehat.

    Sirup Maple


    Satu lagi pemanis yang berasal dari getah, kali ini asalnya dari getah pohon maple. Sirup maple mirip dengan sirup agave namun warnanya lebih pekat dan rasanya tidak terlalu manis. Biasanya sirup kebanggaan negara Kanada ini digunakan sebagai pengganti gula biasa dalam campuran hidangan penutup/kue-kue.

    Sirup maple mengandung banyak nutrisi lho! Bahkan ada studi yang mengatakan bahwa mengonsumsi sirup maple secara teratur bisa mencegah penyakit Alzheimer karena kemampuan sirup ini yang dapat menghentikan penggumpalan protein pada otak.

    Sirup Kurma


    Proses pembuatan sirup kurma mungkin yang paling natural di antara yang lainnya. Kamu hanya perlu merendam kurma dalam air lalu peras hingga sirup alaminya keluar. Karena prosesnya yang sederhana dan terbilang alami, sirup kurma jadi salah satu alternatif pemanis tersehat. Lho.

    Teksturnya lebih kental dari dua sirup sebelumnya. Pas banget nih jadi pemanis dalam kolak favoritmu!

    Gula Kelapa


    Gula yang satu ini mungkin yang paling mudah ditemukan di supermarket, ya. Gula yang bulirannya berwarna cokelat ini terbuat dari kelapa sawit. Rasanya mirip dengan karamel dan tidak terlalu manis. Cocok banget untuk jadi pengganti gula pasir biasa.

    Nah itu dia 4 pemanis vegan yang bisa kamu konsumsi sebagai pengganti pemanis buatan. Rasanya lebih enak dan tentunya berdampak baik untuk tubuh. Selamat menjalankan ibadah puasa, ya veganers!

    PLANTFUL


  • Menu Vegan Pertama KFC di Cina

    April 29, 2020
    /
    Food , Health , Veganism
    Menu Vegan Pertama KFC di Cina image

    Untuk pertama kalinya dalam sejarah, restoran cepat saji KFC di Cina mengeluarkan menu vegan dan akan melakukan percobaan dalam waktu dekat ini. Cabang KFC yang akan pertama kali meluncurkan menunya adalah Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou. Bekerja sama dengan Cargill, KFC akan mengolah produk berbahan dasar tumbuhan sebagai pengganti daging ayam. Karena masih dalam tahap percobaan, menu vegan terbaru ini hanya bisa didapatkan dalam waktu terbatas.

    Setelah persebaran covid-19, permintaan protein berbasis tumbuhan memang meningkat pesat di Asia, seperti dilansir dari weforum. Suspek sementara memang masih menghubungkan antara infeksi covid-19 dengan konsumsi daging hewani. Inilah yang menyebabkan masyarakat di berbagai negara terutama dataran Cina yang sudah mulai pulih dan Hong Kong mulai beralih ke pola makan yang nyaris tanpa daging.


    Laporan terbaru dari Nielsen pun mengamini kenaikan tersebut. Dalam data yang dikeluarkan oleh Nielsen menunjukkan bahwa pada minggu kedua bulan Maret 2020, permintaan vegan meat di Amerika Serikat meningkat hingga 280% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Pandemi ini diperkirakan akan menjadi pencerahan bagi industri panganan vegan. Plant based diet tak hanya akan menyelamatkan lingkungan dari kehancuran, tetapi juga dapat menyehatkan jiwa dan raga.

    Sumber thumbnail : www.livekindly.co

    PLANTFUL


  • Apakah Madu Vegan?

    April 25, 2020
    /
    Veganism
    Apakah Madu Vegan? image

    Seekor lebah mengepakkan sayapnya sebanyak 11.400 kali per menit. Dalam satu hari pencarian makanan, lebah dapat terbang sejauh 1-5km dari sarangnya. Tentu saja lebah membutuhkan energi yang besar dengan pekerjaan seberat itu. Koloni lebah mengumpulkan nektar yang kemudian dijadikan madu sebagai makanan utama saat menghadapi musim dingin/kemarau, ketika bunga-bunga sedang tidak pada musim mekar. Tak hanya itu, lebah juga harus mengepakkan sayapnya di dalam sarang guna menjaga temperatur agar madu tidak cepat mengeras.

    Madu berperan penting untuk kehidupan lebah. Setetesnya menjadi sumber energi yang mereka butuhkan demi menjaga keseimbangan alam. Sudah jelas bahwa madu diperuntukkan bagi lebah saja. Seumur hidupnya, seekor lebah hanya menghasilkan kurang lebih 1 ½ sendok teh madu dan sebanyak dua juta bunga harus dikunjungi untuk 500 gram madu saja. Satu koloni lebah dapat menghasilkan hingga 20-40kg madu.

    Peternakan madu komersial menggunakan sistem yang tidak etis dan tak alamiah guna memanen madu yang dapat dikonsumsi manusia. Pengasapan sarang agar lebah dapat ditaklukkan, pembuahan paksa ratu lebah agar dapat membuat koloni baru, mengganti madu dengan sirup gula artifisial sebagai pengganti asupan para lebah. Hal ini menyebabkan kematian bagi para lebah dan jika terus dieksploitasi, keseimbangan alam akan terganggu dengan langkanya lebah, terutama lebah madu.

    Tentu inilah yang dihindari oleh veganisme. The Vegan Society dan PETA pun menyatakan bahwa madu tidak seharusnya dikonsumsi para vegan. Manusia bisa hidup tanpa madu namun lebah sangat menggantungkan hidupnya pada setiap tetes madu yang mereka hasilkan. Jadi untuk menjawab pertanyaan, tidak, madu tidak termasuk dalam kategori vegan.

    Jika kamu seorang vegan, kamu bisa mengganti madu dengan pemanis lainnya seperti sirup maple, sirup sari kurma, agave/nektar dan gula organik.


    PLANTFUL


  • Tokoh Vegan Bulan April : Billie Eilish

    April 22, 2020
    /
    Entertainment , Veganism
    Tokoh Vegan Bulan April : Billie Eilish image

    Baju baggy-nya selalu menjadi pusat perhatian. Ia masih remaja bahkan belum menginjak kepala 20, namun suara seraknya dipuja oleh berbagai kalangan baik remaja maupun orang dewasa. Baru-baru ini Ia menyabet sekaligus lima penghargaan di ajang bergengsi, Grammy Awards. Dialah, Billie Eilish.

    Billie

    Sumber : www.instagram.com/@BillieEilish

    Sejak kecil Billie Eilish sudah akrab dengan pola makan vegetarian karena keluarganya menerapkan kebiasaan ini. Pada tahun 2014, Billie pun memutuskan untuk menjadi vegan penuh waktu demi kesejahteraan hewan. Ia juga mengaku veganisme membuatnya tak pernah sekalipun merokok, minum alkohol, apalagi menggunakan narkotika walau dikelilingi oleh gemerlap kehidupan selebriti Hollywood.

    Billie Eilish

    Sumber : www.instagram.com/@BillieEilish

    Awalnya Billie tak ambil pusing dengan pilihan orang lain untuk menjadi vegan atau tidak, namun tahun lalu setelah kejadian kebakaran besar di Los Angeles, Billie pun menyampaikan pada pengikutnya di Instagram untuk berhenti mengonsumsi dairy products sembari menampilkan video mengenai kekejaman di salah satu peternakan hewan.

    “I keep my mouth shut most of the time about this because I believe everyone should do, eat, and say whatever they want… and I don’t feel the need to shove what I believe in in anyone’s face,” Ujar Billie dalam keterangan di postingan Instagramnya. “But man… if you can watch the videos that I just posted and not give a * that it’s YOU contributing by LITERALLY EATING the creatures that are being fully tortured just for your pleasure. I feel sorry for you.”


    “I understand that meat tastes good and I know you think you’re just one person and it ‘won’t change anything if you stop,'” Tambahnya. “But that’s ignorant and stupid. If you have half a brain, you should know ‘one person’ adds up. Be smarter,”


    Sama seperti Miley Cyrus, Billie juga menolak untuk mengenakan pakaian berbahan hewani dan sangat keras menyampaikan pendapatnya terhadap animal testing dalam dunia mode.


    Sebagai dara muda, penyanyi berusia 18 tahun ini merasa bertanggung jawab pada kelestarian bumi. Ia menyampaikan protes terhadap undang-undang yang tak berpihak pada lingkungan dalam video berdurasi 1 menit 16 detik bersama aktor Woody Harrelson.

    Tak hanya berhenti di situ saja, Billie menulis lagu berjudul All the Good Girls Go to Hell di tahun 2019 yang menyisipkan pesan untuk masyarakat bahwa perubahan iklim itu nyata dan kita harus mengambil langkah bersama untuk mengatasinya.


    Baru-baru ini Ia dan sang Ibunda merilis vegan charity untuk memberi makan para petugas medis sebagai garda terdepan dan juga untuk siapapun yang membutuhkan.


    Perjalanannya sebagai selebriti muda masih sangat panjang, tetapi Billie Eilish telah membuktikan usia belia bukan berarti tak dapat menyelamatkan lingkungan. Tidak sabar yah melihat aksi dan karya Billie Eilish selanjutnya!

    Sumber thumbnail : www.instagram.com/@BillieEilish


    PLANTFUL


  • Sumber Omega-3 Vegan

    April 15, 2020
    /
    Diet , Health , Veganism
    Sumber Omega-3 Vegan image

    Dalam omega-3 terdapat tiga asam lemak utama, yakni alpha-linolenic acid (ALA), eicosapentaenoic acid (EPA), dan docosahexaenoic acid (DHA). ALA sangat esensial karena tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri sehingga asam lemak tersebut harus didapatkan dari konsumsi makanan dan minuman. Dari ALA, tubuh akan mengonversikannya menjadi EPA kemudian DHA dalam jumlah yang minimum.

    ALA paling sering ditemui dalam minyak-minyak berbasis tumbuhan seperti minyak kacang, minyak flax, dan minyak kanola. Sementara EPA dan DHA didapatkan dari hidangan boga laut.

    Bagaimana seorang vegan mendapatkan omega-3 tanpa harus mengonsumsi makanan hewani?

    Walau EPA dan DHA ridak se-esensial ALA, kedua asam lemak tersebut tetap vital untuk kesehatan otak, terutama bagi bayi. Suplemen EPA dan DHA mengandung minyak ikan yang tentunya tidak dapat dikonsumsi oleh vegan. Oleh karena itu, penting bagi vegan untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan ALA tinggi agar jumlah yang dikonversikan untuk menjadi EPA dan DHA tidak sedikit. Untuk pria berusia lebih dari 19 tahun, membutuhkan kisaran 1,600 mg ALA per hari sedangkan perempuan membutuhkan 1,100 mg ALA per hari. Lalu, makanan apa saja yang menjadi sumber omega-3 vegan?

    Chia Seeds

    Chia Seeds

    Sumber : www.instagram.com/@purelykaylie


    Biji Chia memiliki banyak manfaat karena kaya akan kandungan nutrisi. Chia seeds juga menjadi salah satu sumber utama bagi vegan untuk mendapatkan asam lemak omega-3. Dalam 28 gram chia seeds, kamu sudah bisa mendapatkan asupan harian omega-3 yang diperlukan tubuh.

    Kacang Walnuts
    Kandungan asam lemak omega-3 dalam satu ons kacang walnut lebih banyak jumlahnya dari pada dalam sepotong daging ikan salmon. Studi juga mengatakan bahwa mengonsumsi kacang walnuts secara teratur dapat meningkatkan daya ingat, lho.

    Flaxseeds

    Flax Seeds

    Sumber : www.instagram.com/@plantperform


    Sama dengan chia seeds, flaxseeds kaya akan asam lemak omega-3 dan cocok dikonsumsi bagi vegan baik berupa bubuk maupun minyaknya. Kamu bisa menambahkan bubuk flaxseeds pada smoothie/jus dan menggunakan minyak flaxseeds untuk memasak. Flaxseeds juga ampuh untuk menurunkan tekanan darah tinggi.

    Minyak Alpukat/Avocado Oil
    Avocado oil mengandung konsentrat tinggi omega-3, bahkan 70% dari minyak alpukat terdapat oleic acid yang merupakan sumber omega-9 terbaik. Sesekali mengganti minyak masakmu dengan avocado oil atau menuangkannya di atas salad akan sangat baik untuk kesehatan.

    Selain mendapatkan omega-3 dari makanan-makanan di atas, jangan lupa juga untuk menambahkan vitamin dan suplemen vegan dalam dietmu, ya. Agar keseimbangan nutrisi bisa didapatkan dan kamu dapat selalu sehat, bugar.

    PLANTFUL


  • 5 Masakan Khas Indonesia yang 100% Vegan

    April 8, 2020
    /
    Food , Veganism
    5 Masakan Khas Indonesia yang 100% Vegan image

    Masakan Indonesia selalu identik dengan rendang daging karena hidangan asal Minang ini memang masuk ke dalam jajaran hidangan terlezat di dunia. Tapi tahukah kamu kalau masakan Indonesia itu banyak banget yang gak mengandung produk hewani sama sekali. Kita mulai dari raja protein alias tempe. Penganan berbahan dasar kacang kedelai satu ini jadi favorit hampir semua vegan di dunia karena rasanya yang kaya dan kandungan protein di dalamnya. Tentu sebagai orang Indonesia kita tahu kalau tempe sering kita temui dalam aneka masakan Indonesia.

    Santan atau coconut milk juga merupakan salah satu bahan masakan yang sering kita temui dalam hidangan lokal. Santan menawarkan rasa gurih untuk suatu hidangan yang tak bisa didapatkan ketika menggunakan krim dari susu sapi.

    Bahan masakan yang berbasis tumbuh-tumbuhan dan budaya tradisional yang begitu akrab dengan alam lantas menciptakan hidangan lokal yang ramah vegan. Berikut ini daftar 5 masakan khas Indonesia yang 100% vegan.

    Sayur Lodeh

    Sayur Lodeh

    Sumber : www.instagram.com/@Yoear


    Ada banyak varian sayur berkuah di Indonesia tetapi sayur lodeh salah satu yang memiliki kompleksitas rasa. Kuahnya terbuat dari campuran bumbu dan santan dengan isian berupa terong, jagung manis, labu siam, kacang panjang, daun melinjo dan cabai. Nutrisi lengkap didapat hanya dari semangkuk sayur lodeh.


    Kupat Tahu Magelang
    Bagi yang sudah pernah mencoba hidangan khas Magelang satu ini, pasti tahu dong kalau kupat tahu tidak mengandung produk hewani sama sekali.

    Kupat Tahu

    Sumber : www.instagram.com/@Yoear

    Hidangan ini hanya terdiri dari sayuran seperti kol dan tauge, lalu ketupat yang terbuat dari beras, kuah berbumbu dan tahu goreng. Tampilannya yang sederhana ternyata menyembunyikan aneka rasa yang dapat memanjakan lidah para vegan. Hmm, jadi ngiler, nih!


    Terong Balado
    Non vegan makan daging balado? Kalau vegan sih cukup terong balado aja! Kenikmatan terong berbalut cabai ulek ini terletak pada rasanya yang gurih dan kemudahan untuk dikunyah. Daging balado butuh waktu untuk mengunyah dagingnya, tak jarang juga teksturnya keras. Sementara itu, mengunyah terong tentunya jauh lebih mudah karena kelembutan teksturnya. Makan terong balado dengan sayur tumis lain dan sepiring nasi hangat, nikmatnya tiada tara!


    Bubur Kacang Ijo

    Bubur Kacang Hijau

    Sumber : www.instagram.com/@fridajoincoffee


    Makanan yang biasa kita temui di warung Tegal atau warteg ini harganya murah dan tentunya 100% vegan! Hidangan ini hanya terdiri dari kacang ijo dan ketan merah yang direbus, gula, santan, daun pandan. Kadang juga ditambahkan rempah-rempah seperti jahe atau biji pala. Bubur kacang ijo sangat nikmat dimakan saat udara dingin atau kalau kamu sedang sakit flu.


    Urap
    Urap sebetulnya hampir mirip dengan gado-gado, tetapi alih-alih disiram dengan saus kacang, urap menggunakan parutan kasar kelapa yang telah dibumbui dan dikukus.

    Urap

    Sumber : www.instagram.com/@fen.z

    Urap seringkali jadi hidangan pendamping karena porsi sajinya yang gak terlalu banyak. Dibandingkan gado-gado, urap lebih segar dan ringan karena parutan kelapanya. Jadi rasa sayuran yang diblansir tidak tertutupi.

    Itu dia 5 masakan khas Indonesia yang 100% vegan. Kamu sudah coba semuanya belum? Kalau belum, yuk pesan dulu katering vegan-mu di Plantful dan cobain menu masakan Indonesia vegan sekarang juga!

    PLANTFUL


  • Diet Vegan Bisa Membantu Cegah Asma

    March 31, 2020
    /
    Diet , Health
    Diet Vegan Bisa Membantu Cegah Asma image

    Kabar baik datang dari dunia ilmu pengetahuan yang baru-baru ini membuktikan bahwa plant based diet mampu mencegah asma. Para peneliti dari Physicians Committee for Responsible Medicine melakukan riset mengenai korelasi antara pola makan dengan penyakit asma dan menemukan bahwasannya mengonsumsi sayuran, buah dan makanan tinggi serat seperti kacang/gandum justru memberi manfaat bagi para penderita asma. Sedangkan yang mengonsumsi dairy products secara berkala justru dapat memperparah asma. Penelitian ini ditulis dan dipublikasikan di Nutrition Reviews.

    Dalam studi kasusnya, peneliti membandingkan beberapa kelompok pasien asma yang melakukan diet-diet berbeda. Mereka lalu menemukan bahwa pasien asma yang menjalani diet plant based selama 8 minggu berkurang kebutuhan konsumsi obatnya dan presentase terjadi kekambuhan berkurang drastis.

    Kemudian pasien yang melakukan percobaan diet plant based selama satu tahun mengalami peningkatan perbaikan organ terutama pada area paru-paru.

    Penulis studi kasus ini menyarankan para pasien asma untuk mulai menjalani diet plant based karena dapat mengurangi peradangan sistemik yang dapat memperparah asma. Studi menunjukkan penganan berserat tinggi berpengaruh baik terhadap daya dan fungsi paru.

    Virus CoVid-19 terbukti dapat menginfeksi paru-paru manusia hingga berakibat fatal. Dengan adanya penemuan baru di atas, melakukan diet plant based sangat disarankan pada saat-saat ini agar daya tahan paru semakin kuat.

    Sumber studi:

    https://www.biocompare.com/Life-Science-News/562516-Plant-Based-Diet-Helps-Prevent-Asthma/

    https://medicaldialogues.in/psychiatry/news/plant-based-diet-linked-to-reduction-in-severity-in-asthma-64373

    http://www.atlashealthcarecenter.com/index.php?p=452180


    PLANTFUL