Blog

Apakah Madu Vegan?

April 25, 2020
/
Veganism
Apakah Madu Vegan? image

Seekor lebah mengepakkan sayapnya sebanyak 11.400 kali per menit. Dalam satu hari pencarian makanan, lebah dapat terbang sejauh 1-5km dari sarangnya. Tentu saja lebah membutuhkan energi yang besar dengan pekerjaan seberat itu. Koloni lebah mengumpulkan nektar yang kemudian dijadikan madu sebagai makanan utama saat menghadapi musim dingin/kemarau, ketika bunga-bunga sedang tidak pada musim mekar. Tak hanya itu, lebah juga harus mengepakkan sayapnya di dalam sarang guna menjaga temperatur agar madu tidak cepat mengeras.

Madu berperan penting untuk kehidupan lebah. Setetesnya menjadi sumber energi yang mereka butuhkan demi menjaga keseimbangan alam. Sudah jelas bahwa madu diperuntukkan bagi lebah saja. Seumur hidupnya, seekor lebah hanya menghasilkan kurang lebih 1 ½ sendok teh madu dan sebanyak dua juta bunga harus dikunjungi untuk 500 gram madu saja. Satu koloni lebah dapat menghasilkan hingga 20-40kg madu.

Peternakan madu komersial menggunakan sistem yang tidak etis dan tak alamiah guna memanen madu yang dapat dikonsumsi manusia. Pengasapan sarang agar lebah dapat ditaklukkan, pembuahan paksa ratu lebah agar dapat membuat koloni baru, mengganti madu dengan sirup gula artifisial sebagai pengganti asupan para lebah. Hal ini menyebabkan kematian bagi para lebah dan jika terus dieksploitasi, keseimbangan alam akan terganggu dengan langkanya lebah, terutama lebah madu.

Tentu inilah yang dihindari oleh veganisme. The Vegan Society dan PETA pun menyatakan bahwa madu tidak seharusnya dikonsumsi para vegan. Manusia bisa hidup tanpa madu namun lebah sangat menggantungkan hidupnya pada setiap tetes madu yang mereka hasilkan. Jadi untuk menjawab pertanyaan, tidak, madu tidak termasuk dalam kategori vegan.

Jika kamu seorang vegan, kamu bisa mengganti madu dengan pemanis lainnya seperti sirup maple, sirup sari kurma, agave/nektar dan gula organik.


PLANTFUL