Blog

3 Mitos Vegan Ini Terpatahkan oleh Fakta

August 30, 2020
/
Diet , Health , Veganism
3 Mitos Vegan Ini Terpatahkan oleh Fakta image

Tinggal di negara dengan konsumsi produk hewani yang cukup tinggi tentu menjadi tantangan untuk pegiat pola hidup vegan. Substitusi bahan yang tidak selalu murah, minimnya tempat makan yang menyajikan hidangan khusus berbasis nabati, sampai cemooh dari orang sekitar atas pilihan pola hidup.

Selama ini ada banyak sekali mitos vegan yang lalu lalang dalam kehidupan. Kebenarannya tentu menjadi tanda tanya, karena pengetahuan yang kurang terhadap veganisme dapat membuat seseorang meremehkan veganisme itu sendiri. Kali ini Plantful akan membagikan 3 mitos vegan yang sering kali menjadi permasalahan dalam kehidupan sosial.

Vegan Kurang Protein

Tempe dan tahu adalah salah satu dari sekian banyak bahan makanan berbasis nabati yang mengandung protein. Pernyataan bahwan vegan kekurangan protein sangat sering dilontarkan sehingga mengesankan bahwa hanya produk hewani yang dapat memenuhi asupan protein harian seseorang. Pada kenyataannya, satu orang hanya membutuhkan 0,8 gram protein sehari dan dengan diet vegan, kita sudah bisa memenuhinya apalagi aneka kacang dan polong-polongan yang selalu ada dalam hidangan vegan.

Vegan Tidak Bisa Membentuk Otot

Dengan banyaknya atlet yang beralih pada pola hidup veganisme, tentu saja mitos ini lagi-lagi terpatahkan. Selama kamu mengonsumsi makanan berbasis nabati yang tinggi kalori, tinggi protein, menjadi vegan dan membentuk otot bisa dilakukan.

Vegan Mahal!
Jika kamu memilih bahan-bahan impor, sayur dan buah yang bukan musimnya, tentu saja vegan jadi mahal. Veganisme sendiri mengajarkan kita untuk down to earth agar tak hanya baik untuk diri sendiri, namun juga baik untuk lingkungan. Jangan lupa, tempe, tahu dan sayur-sayuran di pasar sangat murah, lho! Jadi gak ada alasan untuk bilang vegan tuh mahal!

PLANTFUL