Blog

Betulkah Vegan Leather Ramah Lingkungan?

November 28, 2020
/
sustainable , Fashion
Betulkah Vegan Leather Ramah Lingkungan? image

Beralih ke produk fesyen yang ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi idaman bagi kelompok-kelompok yang prihatin terhadap kerusakan bumi. Dua dekade lalu, tak semua lapisan masyarakat menyadari betapa besarnya andil industri fesyen pada kerusakan alam. Produk dengan kulit dan bulu hewan asli, penggunaan pewarna pakaian yang limbahnya mencemari perairan, percobaan laboratorium pada hewan, dan masih banyak kejahatan lain demi selembar pakaian.

Kini, kemajuan teknologi yang dibarengi dengan kesadaran manusia akan lingkungan telah menciptakan aneka bahan dasar produk fesyen berkelanjutan. Tak lagi perlu menggunakan kulit buaya atau bulu cerpelai, bahan pengganti sudah tersedia dengan kualitas tinggi.

Seperti vegan leather yang beberapa tahun belakangan ini digadang-gadang oleh para desainer mode sedunia. Stella McCartney salah satunya. Sejak 2013, Stella telah mempromosikan penggunaan vegan leather/faux leather pada desain pakaian serta aksesoris miliknya. Merk seperti Zara, TopShop pun perlahan mengikuti dengan mengesampingkan penggunaan kulit hewan sama sekali.

Vegan leather biasanya terbuat dari dua jenis polimer plastik yaitu, polyurethane (PU) dan polyvinyl chloride (PVC). Kedua bahan ini memiliki tekstur seperti kulit asli yang berkerut-kerut. Dua jenis polimer plastik ini merupakan bahan sintetis yang membuatnya tidak dapat didaur ulang dan sering kali tidak ramah lingkungan karena dalam prosesnya menggunakan zat-zat kimia.

Leather

Sumber : www.stellamccartney.com 

Dilansir dari ecolife.com, PVC termasuk ke dalam jenis plastik yang sulit didaur ulang. Penggunaannya yang berlebihan dan massal pun dapat membahayakan kesehatan serta mencemari lingkungan. Proses pembuatannya pun menimbulkan polusi karena terlepasnya zat-zat kimia serta limbah. Untuk mendaur ulang PVC tidak bisa dilebur total, kemungkinan hanya bisa diubah menjadi produk lain seperti kabel, pipa plastik, dan lainnya.

Penggunaan PVC untuk bahan utama vegan leather awalnya agar harga produksi jadi lebih murah. Sayangnya tidak semua vegan leather ternyata ramah lingkungan.

Karena ini, beberapa orang pun berkelit dengan memberi pernyataan bahwa kulit hewan jauh lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan karena tahan lama serta biodegradable. Padahal perlu diingat bahwa menternakkan hewan khusus untuk diambil kulit dan bulunya justru sangat membahayakan spesies hewan-hewan tersebut. Peternakan hewan untuk daging dan kulit juga menjadi penyebab utama deforestasi.


Kabar baiknya, vegan leather bisa dibuat dengan bahan-bahan alami berbasis nabati / plant based.

Beberapa vegan leather terbuat dari jamur, dedaunan, daun pisang, buah nanas, kertas daur ulang, serta gabus. Bahan-bahan alami ini dapat didaur ulang dan benar-benar biodegradable. Dengan teknologi pun vegan leather berbasis nabati bisa tahan lama dan mudah perawatannya.

Sebagai konsumen, kita telah diberikan pilihan atas apa yang ada di pasar. Jika peduli dengan isu lingkungan, tidak membeli sama sekali produk fesyen yang tidak diperlukan sebaiknya selalu dipertimbangkan. Namun jika hendak membeli vegan leather, pastikan untuk memilih yang benar-benar ramah lingkungan dan berbasis nabati. Bijaklah dalam membeli dan jangan terpancing dengan greenwashing. Selalu mencari informasi agar tidak salah pilih.

PLANTFUL