Blog

Apakah Wine Vegan?

December 18, 2020
/
Food , Veganism
Apakah Wine Vegan? image

Wine terbuat dari buah anggur yang difermentasi. Sekilas, nampaknya wine dapat dinikmati oleh vegan karena bahan dasarnya berupa buah. Namun ternyata, tidak semua merk wine dapat dikategorikan bebas hewani karena pada proses filtrasi atau membeningkan, fermentasi anggur dibantu oleh fining agents.

Fining agents dibutuhkan untuk membuang material yang tak diinginkan dalam wine saat diekstraksi agar cairannya jernih dan tidak mempengaruhi rasa serta aroma. Zat-zat yang ditambahkan sebagai sang fining agents lumrahnya berasal dari hewan, seperti putih telur, kasein susu, gelatin, dan minyak ikan.

Decanter

Salah satu merk vegan friendly wine

(Sumber : www.decanter.com)

Kabar baiknya, ada dua cara agar proses pembuatan wine dapat memenuhi standar veganisme. Pertama, fermentasi dibiarkan secara natural tanpa filtrasi hingga tidak perlu menambahkan fining agents. Material organik akan mengendap pada dasar gentong dengan sendirinya, namun tentu akan membutuhkan waktu yang lama dan akan mempengaruhi aroma serta rasa.

Kedua, menggunakan fining agents berbasis nabati. Kini banyak pembuat wine yang beralih pada bahan-bahan ramah vegan sebagai fining agents, seperti arang, bentonite, gamping (limestone), karbon, silica gel, dan plak dari sayur-sayuran. Walau begitu, masih sulit untuk membedakan mana wine yang vegan mana yang tidak karena minimnya informasi pada botol kemasan.

Amerika Serikat dan Eropa sebagai produsen wine terbesar tidak memberi regulasi untuk menjelaskan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan wine. Toko penjual wine pun tak semuanya mengerti bahwa ada perbedaan antara vegan friendly wine dengan yang umum. Namun dengan meningkatnya peralihan ke pola hidup veganisme, bisa jadi akan lebih mudah untuk mendapatkan akses pada wine berbasis nabati.

Sumber thumbnail : Elle Hughes from Pexels

PLANTFUL