Blog

  • 5 Alasan Mengapa Kamu Harus Berhenti Makan Telur!

    January 31, 2021
    /
    Diet , Health , Veganism
    5 Alasan Mengapa Kamu Harus Berhenti Makan Telur! image

    Telur selalu menjadi primadona dalam menu makan harian. Harganya cukup terjangkau dan mudah dimasak dalam berbagai resep. Telur juga sering kali menjadi bahan terpenting untuk beberapa hidangan terutama dalam resep kue-kue. Jadi, apakah kita bisa benar-benar hidup tanpa telur?

     

    BISA!

     

    Karena ini adalah 5 alasan mengapa kamu harus berhenti makan telur!

     

    Salmonella

    Bakteri salmonella menjadi salah satu bakteri mematikan jika terkontaminasi dalam tubuh. Bakteri ini menyebabkan keracunan makanan parah dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan kematian. Menurut Centers for Disease Control and Prevention Amerika, unggas sering kali membawa banyak bakteri dan salmonella adalah salah satunya. Cangkang telur kerap kali terkontaminasi dengan kotoran unggas atau tempat bertelur yang mengandung salmonella. 

     

    Baca juga : Telur Vegan Asal Singapura Berhasil Menarik Perhatian. Mirip dengan Telur Asli!

    Kolestrol

    Telur mengandung lemak dan kolesterol yang cukup tinggi untuk mengganggu kesehatan tubuh terutama jantung. 60% kalori pada telur didapat dari lemak, persisnya lemak jenuh. Dalam satu telur berukuran sedang, terdapat 200 mg kolestrol. Dalam penelitian yang diterbitkan oleh Canadian Journal of Cardiology, ditemukan bahwa orang yang sering mengonsumsi telur memiliki resiko terkena kardiovaskular sebanyak 19%.

     

    Kekejaman terhadap ayam

    Guna menghasilkan telur yang banyak, peternak memanipulasi lingkungan tempat ayam-ayam betina bertelur sehingga mereka dapat bertelur sebanyak mungkin. Ayam-ayam pun akhirnya kelelahan dan mudah stress sehingga mati dalam keadaan tidak baik.

     

    Baca juga : Bikin Kue Vegan dengan 5 Bahan Pengganti Telur

    Pemusnahan masal

    Ini terjadi pada anak-anak ayam jantan dan juga betina yang tidak sehat. Hal ini kerap terjadi pada peternakan ayam telur yang masif. Hal ini disebabkan karena ayam jantan tidak dapat menghasilkan telur, hanya ayam betina yang sehatlah yang dibiarkan mati. Sekiranya 7 milyar ayam jantan dimusnahkan setiap tahunnya.

     

    Konsumsi telur dapat memperpendek usia

    Studi menyebutkan bahwa mengonsumsi telur dalam satu hari saja dapat meningkatkan resiko berbagai penyakit. Inilah yang menyebabkan turunnya harapan hidup seseorang.

    EggNot

    Baca juga :  Is it Egg? Is it Not? It's Eggnot!

    Lalu bagaimana kita bisa mengganti fungsi telur dalam makanan sehari-hari? Tenang, ini lah mengapa Eggnot hadir di Indonesia! Walau bukan telur, Eggnot bisa menjadi substitusi telur yang jauh lebih sehat karena telur vegan cair ini terbuat dari kacang-kacangan yang justru kaya akan protein dan vitamin. Nggak percaya? Pesan saja dulu di sini!

    Sumber thumbnail : Polina Tankilevitch from Pexels

    Sumber : https://www.pcrm.org/news/health-nutrition/eggs-increase-risk-heart-disease

    https://www.pcrm.org/good-nutrition/nutrition-information/health-concerns-with-eggs

    https://www.pcrm.org/news/health-nutrition/egg-consumption-increases-risk-type-2-diabetes

    https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21673178/

    https://www.fda.gov/food/food-inspection-programs/egg-safety-inspections

     

    PLANTFUL


  • 4 Alasan Mengapa Kamu Tidak Butuh Susu Sapi!

    January 31, 2021
    /
    Diet , Food , Veganism
    4 Alasan Mengapa Kamu Tidak Butuh Susu Sapi! image

    Kita tidak selalu memerlukan susu sapi sebagai sumber kalsium untuk tulang. Bloating atau kembung adalah salah satu dari beberapa akibat yang disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi susu. Bagi mereka yang mengidap lactose intolerance, susu dan produk dairy lainnya tidak dapat diserap oleh pencernaan dengan sempurna hingga mengakibatkan kembung parah, perut bergas, bahkan diare. Walau tidak membahayakan, terlalu banyak minum susu bisa berujung pada ketidak seimbangan pola hidup bagi orang dewasa.

     

    Selain untuk menjaga kesehatan, alasan lingkungan dan hak asasi hewan adalah alasan lain mengapa kita sebaiknya tidak terlalu sering atau bahkan tidak sama sekali mengonsumsi susu sapi. Berikut 4 alasan mengapa kamu tidak butuh susu sapi!

     

    Susu sapi untuk bayi sapi

    Guna memberi kita segelas susu setiap harinya, sapi harus dibuat hamil agar dapat diperah. Susu-susu ini seharusnya diperuntukkan bagi bayi-bayi sapi yang sudah lahir. Setelah itu, induk sapi akan terus dipaksa hamil hingga berulang sampai sang induk tak lagi mampu beranak.

     

    Baca juga : Dari Mana Sumber Kalsium Vegan?

    Susu sapi dan produk dairy tinggi akan lemak

    Segala produk yang terbuat dari dairy (susu sapi terutama) memiliki kalori yang tinggi. Lemak dalam susu sapi (tergantung pada jenis sapi) bisa mencapai hingga 5% lemak. Selain itu, produk-produk berbasis susu seringkali mengandung lemak saturasi/lemak jenuh yang sangat buruk untuk kesehatan. Susu sapi juga biasanya masih mengandung hormon sapi.

     

    Penghasil gas emisi yang tinggi

    Untuk menghasilkan segelas susu sapi saja, peternakan telah menghasilkan tiga kali lipat efek rumah kaca. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi bumi yang kian hari kian panas karena krisis iklim.

     

    Mengakibatkan alergi

    Bayi dan anak-anak sering kali mengalami reaksi alergi terhadap susu sapi. Walau hal ini jarang terjadi pada orang dewasa, tapi kemungkinan orang dewasa juga mengalaminya tetap ada. Alergi pada susu bisa berakibat pada ruam kulit dan gatal-gatal, sesak nafas, kembung, diare, serta infeksi pada telinga.

     

    Baca juga : 5 Susu Alternatif Pengganti Susu Sapi

    Belum bisa meninggalkan susu sapi sepenuhnya? Coba untuk mengeleminasinya secara bertahap. Susu sapi tidak melulu buruk, tetapi menjadikannya menu utama dalam pola makan tentu bukan keputusan yang baik. Ganti susu sapi dengan susu berbasis nabati.

    Sumber thumbnail : freestocks.org from Pexels

    PLANTFUL

     


  • Berkenalan dengan Yogurt Vegan

    January 31, 2021
    /
    Diet , Food , Health , Veganism
    Berkenalan dengan Yogurt Vegan image

    Yogurt merupakan fermentasi bakteri dari susu yang tidak sulit kita temui di mana pun. Walau tak begitu jelas kapan dan bagaimana yogurt pertama kali ditemukan, sejarah memperkirakan bahwa panganan dengan rasa masam ini berasal dari Mesopotamia pada 5000 SM. Yogurt hampir selalu hadir di setiap catatan sejarah suatu daerah. India, Yunani,Turki, Perancis, hingga Timur Tengah menyanjung yogurt sebagai makanan istimewa.

     

    Pada umumnya, yogurt terbuat dari susu hewani seperti sapi, kambing, kerbau, hingga unta. Fermentasi pada susu kemudian menghasilkan asam laktat, yang menciptakan tekstur khas serta memberikan rasa asam legit pada yogurt. Untungnya, sekarang vegan dan orang yang menderita alergi laktosa bisa menikmati yogurt juga karena sudah tersedia yogurt versi vegan.

     

    Yogurt vegan terbuat dari susu kacang/kelapa. Dengan teknik yang serupa hanya saja bahan-bahannya sama sekali tidak mengandung hewani, yogurt vegan juga memiliki kandungan bakteri probiotik yang menyehatkan pencernaan. Agar proses fermentasi tercapai, susu diberikan yogurt starter culture yang merupakan bakteri. Culture ini adalah biang yogurt yang terbuat dari susu hewani. Dalam pembuatan yogurt vegan, starter culturenya terbuat dari susu kedelai atau susu kacang almond.

     

    Jenis yogurt vegan yang paling banyak mengandung protein adalah yang terbuat dari susu kacang kedelai. Yogurt kelapa di sisi lain, tidak mengandung protein kecuali ditambahkan bahan nabati berprotein lainnya. Selain kandungan gizi dan vitamin, yang perlu diperhatikan ketika membeli yogurt vegan adalah kadar gula di dalamnya. Sering kali yogurt vegan lebih banyak mengandung gula sebagai tambahan rasa.

     

    Yogurt vegan bisa kamu makan begitu saja atau ditambahkan ke dalam oatmeal, dessert, atau smoothie. Bingung membeli yogurt vegan di mana? Eittss, ada banyak lho yogurt vegan yang bisa kamu beli di toko-toko online/supermarket besar. Atau barangkali jika memiliki bahan-bahannya, kamu bisa membuat sendiri yogurt vegan kesukaanmu!

    Sumber thumbnail : Vlad Chețan from Pexels

    PLANTFUL


  • Sumber Zat Besi Vegan

    January 30, 2021
    /
    Food , Veganism
    Sumber Zat Besi Vegan image

    Tubuh sangat bergantung pada sumber-sumber vitamin dari luar yang tak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Zat besi adalah salah satunya. Tubuh membutuhkan zat besi untuk menghasilkan hemoglobin (protein dalam sel darah merah yang membawa kandungan oksigen ke seluruh bagian tubuh), myoglobin (protein yang menyediakan oksigen bagi otot), serta hormon sehingga tubuh dapat bekerja dengan seimbang.

    Perempuan remaja hingga dewasa membutuhkan kadar zat besi harian yang lebih banyak dari laki-laki. Ini disebabkan oleh periode menstruasi bulanan pada perempuan. Jika tidak mendapat asupan zat besi yang cukup, maka perempuan bisa mengalami kekurangan zat besi.

    Baca juga : Sumber Omega-3 Vegan

    Dalam pola makan vegan, kesulitan dalam mencari substitusi makanan hewani memang menjadi tantangan terutama untuk makanan yang mengandung zat-zat tertentu seperti omega-3, protein, dan lainnya. Untuk itulah sebagai seorang vegan, kita harus rajin mencari tahu makanan apa yang perlu kita konsumsi guna memenuhi asupan gizi harian. Sumber zat besi vegan tentu tidaklah sulit. Kita tidak perlu mengonsumsi hati sapi, daging ikan, dan makanan hewani lainnya. Berikut ini sumber zat besi vegan yang wajib kamu ketahui!

    Kacang Merah / Kidney Beans
    Tahu gak bahwa di setiap 100 gram kacang merah, terkandung 8,2 mg zat besi. Mengonsumsinya dalam sehari saja kamu sudah bisa memenuhi asupan zat besi harian. Kacang merah ini enak banget dimasak dalam sup seperti brenebon, tapi tanpa daging tentunya!

    Tahu

    Tahu

    Sumber : Polina Tankilevitch from Pexels


    Bahan pangan favorit para vegan ini memiliki banyak kandungan gizi yang bermacam-macam, ya? Protein ada, serat ada, vitamin ada, dan ternyata tahu juga mengandung zat besi yang tinggi. Di setiap 100 gram tahu, terkandung 5,4 mg zat besi. Ayoo yang sudah sering makan tahu, pasti bangga, kan!

    Baca juga : Sumber Protein Vegan

    Roti Sourdough

    Sourdough

    Sumber : Photo by Jytte Elfferich from Pexels


    Roti sourdough tak hanya mengandung serat yang tinggi, tetapi juga zat besi. Di setiap 100 gram sourdough, terdapat 3,6 mg zat besi.

    Biji Wijen
    Siapa yang menyangka kalau biji-biji kecil yang menempel di kue onde-onde ini mengandung zat besi yang tinggi. Di setiap 100 gram biji wijen, terdapat 14,6 mg zat besi. Selain itu, biji wijen juga mengandung vitamin B6, fosfor, potassium, dan seng. Biji wijen paling sedap disajikan di atas salad atau hidangan favoritmu. Sebelumnya jangan lupa disangrai sebentar, ya!

    Bayam

    Bayam

    Sumber :  Rodolfo Quirós from Pexels


    Kale juga mengandung zat besi yang tinggi, tapi bayam yang lebih murah meriah juga gak kalah lho kandungan zat besinya. Bayam yang kaya akan vitamin ini mengandung 2,7 mg zat besi di setiap 100 gramnya. Makanan sehari-hari kita di Indonesia ternyata bergizi banget, ya!

    Sahabat terbaik makanan dengan zat besi adalah makanan yang mengandung vitamin c. Ini karena vitamin c dapat membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Kurangi kafein ketika mengonsumsi makanan dengan zat besi karena tubuh dapat menolak penyerapan zat tersebut.

    Sumber thumbnail : Polina Tankilevitch from Pexels

    PLANTFUL


  • Baca 5 Buku Tentang Vegan Ini Sebelum Terlambat!

    January 28, 2021
    /
    Life Style , Veganism
    Baca 5 Buku Tentang Vegan Ini Sebelum Terlambat! image

    Salah satu tantangan untuk mengubah pola hidup berkelanjutan adalah minimnya informasi yang membuat kesulitan menemukan tujuan utamanya. Internet memang sudah menyediakan beragam informasi, namun tidak semuanya valid juga seringnya membingungkan. Buku jadi sumber informasi yang paling bisa diandalkan apalagi jika ditulis oleh orang yang ahli di bidangnya.

    Pentingnya untuk mengulik informasi seputar veganisme dapat membantu kamu untuk lebih berkomitmen. Ada banyak buku yang wajib kamu baca jika ingin beralih pada veganisme. Mulai dari buku tentang lingkungan, hak asasi hewan, pertanian, sampai resep-resep masakan vegan. Tapi sebagai permulaan, buku mana yang harus dibaca terlebih dahulu? Tenang, Plantful sudah membuat daftar 5 buku tentang vegan untuk membantu kamu beralih pada veganisme.

    We are the Weather : Saving the Planet Begins at Breakfast Oleh Jonathan Safran Foer

    we are the weather

    Sumber : www.instagram.com/wearetheweather

    Penulis asal Amerika, Jonathan Foer juga merangkap sebagai aktivis anti peternakan. Ia kerap menyuarakan betapa pentingnya bagi warga Amerika untuk mengurangi konsumsi daging demi lingkungan dan kesehatan. Jonathan menumpahkan fakta tentang kerusakan lingkungan melalui buku-bukunya seperti Eating Animals dan We are the Weather. Dalam buku ini, Jonathan menjelaskan bagaimana tidak mengonsumsi makanan berbahan hewani dalam satu hari saja, kita bisa menyelamatkan krisis iklim yang telah merusak keseimbangan alam.

    Eat for the Planet: Saving the World One Bite at a Time Oleh Gene Stone & Nil Zacharias

    Eat for the planet

    Sumber : www.instagram.com/eatfortheplanetpod

    Buku ini merupakan paket lengkap berisi data dan fakta dari riset ilmuwan tentang kerusakan bumi yang saat ini sedang kita hadapi bersama. Nil dan Gene, kedua penulis buku Eat for the Planet yang juga membawakan acara podcast dengan judul serupa, mengungkapkan bagaimana beralih ke veganisme adalah langkah yang tepat untuk menyelamatkan bumi.

    ‘This Changes Everything: Capitalism vs The Climate’ Oleh Naomi Kline

    This changes everything

    Sumber : www.instagram.com/fromhollysbookshelf


    Di balik kerusakan yang terjadi pada alam, ternyata sistem kapitalisme adalah salah satu dalang terbesarnya. Naomi Kline dengan berani dan lugas membeberkan fakta tentang harga yang harus dibayar oleh manusia pada krisis iklim karena sistem yang tak berpihak pada alam. Membaca buku ini akan membuat kita berpikir ulang tentang sistem kehidupan modern saat ini.

    More Plants Less Waste oleh Max La Manna

    more plants less waste

    Sumber : www.instagram.com/maxlamanna

    Sebagai seorang chef dan aktivis iklim yang memiliki komitmen tinggi terhadap low waste, Max La Manna pun menulis buku masak bertajuk resep-resep berbasis nabati dan tentunya minim sampah. Dalam buku More Plants Less Waste, Max mengajarkan bagaimana memasak hidangan harian sebenarnya bisa murah juga ramah lingkungan.

    That's Why We Don't Eat Animals Oleh Ruby Roth

    That's why we don't eat animals

    Sumber : www.instagram.com/wedonteatanimals

    Mau mengenalkan pola hidup veganisme pada anak dengan cara yang mudah dimengerti? Bacakan saja buku That’s why we don’t eat animals yang ditulis oleh penulis serta ilustrator buku anak, Ruby Roth. Ruby juga telah menulis buku tentang veganisme lainnya yang diperuntukkan bagi anak-anak. Dengan gaya bahasa yang menyenangkan dan ilustrasi cantik khas Ruby, buku ini dapat memudahkan baik kamu maupun si kecil untuk memahami veganisme sejak dini.

    Masih banyak buku-buku tentang vegan yang bisa kamu baca di waktu senggang. Jangan pernah berhenti untuk mencari tahu, ya!

    PLANTFUL


  • Eva Celia, Sang Tokoh Vegan Pecinta Hewan

    January 26, 2021
    /
    Entertainment , Veganism
    Eva Celia, Sang Tokoh Vegan Pecinta Hewan image

    Pada 2018 lalu, Eva Celia mengumumkan di akun media sosialnya bahwa Ia telah beralih ke pola hidup vegan. Setelah banyak belajar dari sang Ibu, Sophia Latjuba, yang telah menjadi vegan lebih dulu, Celia mantap untuk meninggalkan kehidupan non vegannya.

    Baca juga : Tokoh Vegan Bulan September "Sophia Latjuba"

    Tak hanya menjadi vegan sebatas pada makanan saja, Celia juga tak lagi mengenakan barang fesyen yang dibuat dari kulit/bulu hewan. Ia dan Sophia menjual seluruh sepatu, tas, dan pakaian berbahan dasar hewani.

    Eva Celia

    Sumber : www.instagram.com/evacelia

    Sebelum menjadi vegan penuh waktu, Celia kerap kali mengunjungi dokter karena masalah hormonal yang mengganggu kesehatannya. Ia hanya mendapat menstruasi beberapa bulan sekali dan selalu merasa tidak bugar. Setelah disarankan untuk mengonsumsi makanan berbasis nabati lebih banyak, Celia merasakan perubahan. Sejak saat itulah Ia mantap untuk menyudahi masa-masanya mengonsumsi produk hewani.

    Eva Celia

    Menjadi vegan awalnya tidaklah mudah, begitu pula dengan musisi muda kelahiran 21 September 1992 ini. Di awal Ia kerap membagikan edukasi mengenai kekejaman terhadap hewan, banyak pengikut media sosialnya yang memutuskan untuk men-unfollow. Walau begitu kecintaannya terhadap hewan dan lingkungan adalah dua faktor yang membuatnya selalu bersemangat menjalani pola hidup vegan.

    Eva Celia

    Aksinya dalam mencintai hewan terbukti dengan cerita yang baru-baru ini Celia sampaikan pada akun Instagramnya. Celia telah mengadopsi 16 ekor kucing yang Ia selamatkan dari berbagai tempat di jalan. Ia menyediakan rumah untuk kucing-kucingnya dan memastikan mereka hidup dengan baik. Selain kucing, Celia juga memiliki 4 ekor anjing dan mengungkapkan keinginannya untuk mengadopsi ayam dalam waktu dekat.

    Eva Celia

    Kini untuk membagikan resep-resep vegan andalannya, Eva Celia dan Sophia Latjuba membawakan acara mini series berjudul Rahasia Dapur & Eva. Sesekali Celia juga membagikan foto hidangan vegan andalannya di Instagram guna menggugah selera para pengikutnya.

    Sumber thumbnail : www.instagram.com/evacelia

    PLANTFUL


  • 3 Alasan Kenapa Kita Tak Harus Selalu Makan Ikan

    January 19, 2021
    /
    Food , Health , sustainable , Veganism
    3 Alasan Kenapa Kita Tak Harus Selalu Makan Ikan image

    Mengonsumsi ikan selalu digadang-gadangkan karena kandungan gizinya yang dapat memberi dampak baik pada tubuh. Kita sangat memerlukan asupan asam amino harian untuk membran sel, otak, serta sistem saraf karena tubuh tidak dapat memproduksi asam amino sendiri. Omega-3 merupakan salah satu jenis asam yang paling penting. Omega-3 terdiri dari DHA, EPA, dan ALA yang memiliki fungsi berbeda-beda bagi tubuh. Minyak ikan adalah yang paling sering disarankan untuk dikonsumsi demi mendapatkan kandungan omega-3.

    Kandungan omega 3 pada ikan tidak sama rata. Ikan di perairan dingin seperti salmon, tuna, makarel, dan sarden tinggi akan LC omega-3 karena memiliki banyak lemak. Kandungan omega-3 pada ikan juga tergantung pada apa yang mereka makan sehari-hari. Ikan yang diternakkan memiliki kandungan omega-3 lebih rendah dari ikan liar karena terdapatnya perbedaan pakan.

    Namun ada banyak hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum betul-betul menikmati ikan. Ikan tidak selalu sehat untuk dikonsumsi dan penjaringan ikan sudah terlampau berlebihan. Pada kenyataannya, omega-3 yang terdapat pada ikan merupakan hasil dari konsumsi rumput laut oleh si ikan. Berikut 3 alasan kenapa kita tidak harus selalu makan ikan!

    Ketimpangan ragam hayati akibat eksploitasi laut
    Tingginya permintaan konsumsi ikan mengakibatkan pemancingan yang berlebihan. Menyisakan sedikit untuk lautan, bahkan menghilangkan sama sekali bibit-bibit hewan laut. Pada proses penjaringan ikan, beberapa makhluk laut yang sangat penting untuk ekosistem seperti paus, hiu, anjing laut, dan lumba-lumba sering kali ikut terjaring lalu mati. Belum lagi sampah pancing yang kerap kali mengotori lautan. Studi menyebutkan jika eksploitasi laut terus dilakukan, lautan akan kehilangan ikan pada 2048.

    Tingginya kandungan merkuri pada beberapa jenis ikan
    Tuna adalah salah satu ikan yang paling sering tercemar merkuri. Merkuri pada ikan tidak bisa musnah dengan dibersihkan atau dimasak dengan berbagai cara. Zat beracun itu terakumulasi dalam ikan dan jika dikonsumsi secara rutin akan berdampak buruk bagi kesehatan.

    Omega-3 bisa didapatkan dari bahan berbasis nabati
    Chia seeds, flax seeds, kacang-kacangan, dan rumput laut menjadi sumber omega-3 yang jauh lebih bisa diandalkan. Tanpa diolah pun, bahan-bahan berbasis nabati ini bisa langsung dikonsumsi dan tubuh dapat lebih cepat menyerap gizinya.

    Baca juga : Sumber Omega-3 Vegan

    Jika kamu masih ingin memasukkan ikan dalam menu harian, pastikan untuk mengonsumsi secukupnya dan perlahan menambahkan lebih banyak bahan pangan berbasis nabati agar nantinya dapat terbiasa.

    Sumber thumbnail : Karolina Grabowska from Pexels

    PLANTFUL