Blog

Is it Egg? Is it not? It's EGGNOT!

January 18, 2021
/
Diet , Food , Veganism
Is it Egg? Is it not? It's EGGNOT! image

Diet plant based kian hari kian diminati. Menurut data yang dipublikasikan oleh The Good Food Institute pada 2020 lalu, penjualan bahan makanan berbasis nabati naik hingga 29% sejak dua tahun terakhir, menyentuh angka 5 miliar USD. Susu plant based merajai daftar permintaan diikuti dengan daging plant based dan produk non-dairy.

Good Food Institute

Telur berbasis nabati adalah bahan yang jarang diminati karena minimnya pengembangan produk dibandingkan daging yang jenisnya sangat bervariatif. Walau begitu, analisa dari Data Bridge Market Research menyebutkan, penjualan plant based egg diperkirakan akan meningkat tajam dalam rentang waktu 7 tahun dari 2020 ke 2027. Bertambahnya orang-orang yang beralih ke pola hidup vegan menjadi senjata utama terjadinya peningkatan peminat plant based egg.

Baca juga : Telur Vegan Asal Singapura Berhasil Menarik Perhatian. Mirip dengan Telur Asli!

Di Indonesia sendiri, Eggnot adalah pelopor plant based egg sejak tahun 2019. Telur yang terbuat dari kacang hijau, extra virgin olive oil, dan kedelai organik ini berupa liquid yang dikemas dalam botol. Jika diperhatikan dari teksturnya, Eggnot terlihat seperti telur yang sudah dikocok untuk membuat dadar, tetapi ternyata Eggnot bisa digunakan sebagai pengganti telur di semua resep termasuk baking.

Baca juga : Bikin Kue Vegan dengan 5 Bahan Pengganti Telur

Dalam kesempatan kali ini, tim Plantful berbincang dengan Syenni, salah satu founder Eggnot yang akan berbagi cerita kepada kita semua.

Eggnot

Sumber : www.instagram.com/eggnot.co

Hi Syenni! Bisa diceritakan kah bagaimana awal mula kamu membangun EggNot? Eggnot nama yang unik, terdengar seperti permainan kata, bisa ceritakan juga proses pencarian namanya?

EGGNOT berawal dari visi kedua co-founder yang selaras, yaitu “to provide a vegan food solution”. Kami ingin semua orang dapat mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dengan praktis, tanpa mengorbankan rasa.

Yes, EGGNOT is a play of words

It’s not egg, it’s EGGNOT!

Pemilihan kata tersebut muncul di fase R&D kami. Karena mirip dengan telur, teman dan keluarga kami yang mencoba EGGNOT kerap bertanya “It’s not egg?” atau “Ini bukan telur?”. Sehingga dari situ, kami bermain dengan kata dan menemukan nama yang pas untuk produk kami yang menyerupai telur, tapi bukan telur.

Eggnot

Apakah sejauh ini, eggnot telah menciptakan revolusi dalam industri plant based food?

We hope we did. Sejauh ini belum ada produk di Indonesia yang menyerupai produk kami, yaitu ready-to-cook vegan eggs. Karena dalam bentuk mentah dan cair, produk kami bisa dimasak menjadi berbagai macam hidangan, sehingga memberikan kreativitas pada konsumen kami. Konsumen dapat berkreasi dengan EGGNOT, selayaknya dengan telur.

Mengapa telur?
Telur adalah salah satu pangan yang sangat “versatile”. Seringkali telur dimakan sebagai lauk, perekat adonan, atau bahkan kue. Meskipun berguna di berbagai macam makanan, telur memiliki kolesterol yang tinggi dan industri peternakan pun berdampak buruk pada lingkungan. Sedangkan EGGNOT terbuat dari bahan nabati yang kaya akan nutrisi dan tidak mengandung kolesterol. Kami ingin memberikan opsi pengganti telur yang lebih sehat dan menguntungkan bumi dan semua penduduknya 
Eggnot

Bagaimana produk eggnot dapat diaplikasikan pada menu harian?

EGGNOT dapat dimasak menjadi berbagai macam hidangan rumahan, seperti tumis sayur cah telur, dan bahkan menjadi adonan dalam hidangan internasional, seperti pasta.

How do you see EggNot in the future?

Kami ingin EGGNOT ada di setiap meja makan penduduk Indonesia. We want to make Indonesia a healthier nation, one zero-cholesterol egg at a time.

Pssst Plantful dan Eggnot akan berkolaborasi nih! Are you ready to have an adventure with us?

Kami senang sekali bisa bekerja sama dengan Plantful! Dengan visi yang sama, yaitu membuat plant-based food more accessible to customers. We are ready to hop on the adventure with Plantful, one vegan food at a time.

PLANTFUL