Blog

Kemelut Sampah di Indonesia

February 23, 2021
/
Life Style , sustainable
Kemelut Sampah di Indonesia image

Setiap tahun, seluruh negara di dunia telah menyumbang sampah sebesar 2 milyar ton. Material-material yang terkontaminasi seperti sampah medis, sisa pabrik, sampah tak terdaur, berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau yang paling parah, menggenang di lautan.

Masalah pengelolaan sampah di Indonesia selalu menjadi sorotan, terutama ketika melihat betapa tingginya gunung sampah di TPA.. Indonesia memang bukan negara dengan pengelolaan sampah terburuk, namun masih tidak lebih baik, apalagi Indonesia merupakan negara kedua penghasil sampah plastik di laut sebesar 1,29 Juta Ton/Tahun. Di Ibukota Jakarta, sampah harian yang dihasilkan pada awal tahun 2020 sebelum pemberlakuan PSBB pertama mencapai 9.300 ton per hari, seperti dilansir dari Merdeka.com. Setelah PSBB diterapkan, sampah yang diangkut menuju TPA berkurang. Ini disebabkan karena sampah perkantoran di DKI Jakarta lah yang mendominasi sumber sampah kota.

Sementara KLHK mengeluarkan data bahwa jumlah sampah nasional pada 2020 mencapai 67,8 juta ton. 60% sampah menumpuk di TPA, 10% didaur ulang, dan 30% sisanya tidak diolah sama sekali juga tersebar di tempat lain hingga mencemari lingkungan. Menurut data dari SIPSN, sampah nasional terbanyak bersumber dari rumah tangga, yaitu sebesar 32.63% dengan sampah makanan sebanyak 40.9% sebagai jenis sampah tertinggi.

Data Sampah

Sumber : http://sipsn.menlhk.go.id/

Sampah plastik adalah jenis timbulan sampah tertinggi kedua skala nasional (16.57%). Padahal plastik adalah sampah yang paling sulit terurai dan beracun jika tidak didaur dengan benar.

Bagaimana dunia bisa sampai ke tahap di mana sampah menjadi problematika yang berbahaya?

99% barang yang kita beli dibuang dalam kurun waktu 6 bulan. Menggunungnya sifat konsumtif baik pada individu maupun pada tahap pemerintahan membuat kita kelabakan ketika baru menyadari bahwa sampah sudah terlalu banyak. Minimnya sosialisasi pemilahan sampah serta penanganan yang tidak cakap memperparah keadaan. Belum lagi kegiatan impor sampah yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti Amerika, Australia, Perancis, Jerman, dan Hong Kong ke negara-negara Asia. Setelah pada 2017 lalu, China melarang impor sampah, sampah-sampah negara maju pun berlayar ke negara-negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.

Impor sampah ke Indonesia pada tahun 2018 meningkat tajam hingga 283.000 ton. Sayangnya ini bukan tidak disengaja. Seperti dilansir pada Channelnewsasia.com, perusahaan daur ulang terbesar di Indonesia hanya menerima sampah plastik jenis tertentu yang tidak selalu mereka dapatkan dari sampah lokal. Mereka membutuhkan sampah plastik berkualitas untuk dijadikan botol minum daur ulang, sedotan, dan lainnya. Untuk itu, terjadilah impor sampah. Pada 2019 lalu, limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (3B) ditemukan di antara sampah-sampah yang diimpor. Pemerintah pun mengambil langkah dengan memperketat regulasi penerimaan serta mengirim kembali sampah-sampah yang telah tercampur limbah B3.

Kini bank sampah sudah mulai ramai bermunculan. Pemerintah di tiap daerah mulai melarang penggunaan plastik di supermarket. Pemerintah berkomitmen untuk mengurangi sampah di lautan hingga 2025. Namun tumpukan sampah masih tegak berdiri. Baik pemerintah maupun masyarakat harus bekerja sama mengurangi penumpukan sampah terutama di TPA.

Dalam skala rumah tangga, sampah organik seperti sisa sayuran/kulit buah bisa didaur ulang melalui proses pengomposan atau dibuat kaldu dan sabun. Pemilahan sampah organik, non organik juga penting untuk dicanangkan di setiap keluarga. Sampah non organik bisa diantar ke bank sampah terdekat, jadi tidak berakhir tanpa proses pengolahan di TPA.

Masih panjang perjalanan Indonesia untuk memerangi sampah. Kita semua berperan untuk memahami pengolahan sampah.

Sumber thumbnail :  Magda Ehlers from Pexels

PLANTFUL