Blog

  • Adidas Segera Luncurkan Sepatu Kulit dari Jamur

    December 29, 2020
    /
    Fashion , sustainable
    Adidas Segera Luncurkan Sepatu Kulit dari Jamur image

    Setelah berhasil memproduksi 15 pasang sepatu berbahan plastik daur ulang, Adidas kembali mengumumkan produk sepatu berbahan ramah lingkungan yang saat ini sedang dikerjakan. Adidas telah mengembangkan cara untuk membuat kulit sintetik yang terbuat dari mycelium. Mycelium sendiri adalah jaringan akar pada jamur yang dapat tumbuh dengan cepat dan bisa dijadikan perekat alami tanpa harus menggunakan lem.

    Adidas

    Bahan yang pada dasarnya vegan ini akan digunakan oleh Adidas untuk membuat sneakers dan produk lain jika telah berhasil dikembangkan. Sejak bulan oktober, Adidas bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Bolt Threads guna mendapat pasokan mycelium yang memang disediakan oleh perusahaan tersebut. Sebelumnya pada 2018, Adidas meluncurkan pakaian olahraga berbahan cotton dan jagung juga sepatu berbahan dasar sampah plastik dari laut dengan nama Parley Collection.

    Merk dagang yang berdiri pada 1949 di Jerman ini terus berkomitmen untuk mengembangkan bahan-bahan ramah lingkungan. Dengan strategi berkelanjutannya,  Adidas memprediksi untuk dapat meluncurkan produk-produk fesyen ramah lingkungan pada 2025. 20 tahun sudah Adidas menjadi satu-satunya perusahaan mode yang berada pada peringkat pertama dalam menjalankan sustainability. Setiap tahunnya Adidas mengeluarkan daftar Green Company Performance Analysis yang menunjukkan pencapaian mereka dalam gerakan ramah lingkungan.

    Sumber thumbnail : Kaique Rocha from Pexels

    PLANTFUL


  • Veg News : Israel Segera Larang Perdagangan Kulit Hewan Untuk Pertama Kalinya

    November 30, 2020
    /
    Fashion , News
    Veg News : Israel Segera Larang Perdagangan Kulit Hewan Untuk Pertama Kalinya image

    Israel baru saja mengumumkan regulasi baru melalui Menteri Perlindungan Lingkungannya, Gila Gamliel terkait penjualan, pembelian, dan pembuatan produk kulit serta bulu hewan. Israel akan segera melarang transaksi yang berhubungan dengan kekejaman pada hewan, dalam hal ini merujuk pada industri perdagangan bulu hewan.

    Gamliel menyatakan dengan tegas bahwa memakai bulu dan kulit hewan untuk mode adalah kekejaman yang tidak dapat ditoleransi.

    Industri perdagangan bulu telah membunuh ratusan juta hewan di seluruh dunia. Mereka telah melakukan kekejaman serta menyebabkan penderitaan yang tak terlukiskan.” Ujar Gamliel lantang.

    Kini seseorang yang hendak membeli kulit/bulu hewan harus mendapatkan izin yang disesuaikan dengan regulasi ketat. Yang bisa mendapat izin untuk membeli kulit serta bulu hewan hanyalah mereka yang hendak menggunakannya untuk keperluan sains, edukasi/peragaan tertentu, dan untuk keperluan ibadah/tradisi.

    Dengan ini, Israel akan menjadi negara pertama yang melakukan pelarangan terhadap jual beli kulit dan bulu hewan. Ini menjadi gebrakan besar setelah California yang menjadi satu-satunya kota dengan aturan yang sama.

    Regulasi Israel mendapat pujian dari seluruh organisasi lingkungan & hak asasi hewani. Jika negara-negara lain yang telah membatasi jumlah penjualan dapat mengikuti jejak Israel dengan melarang sama sekali, banyak hewan-hewan liar dan terancam punah yang dapat diselamatkan.

    PLANTFUL


  • Betulkah Vegan Leather Ramah Lingkungan?

    November 28, 2020
    /
    sustainable , Fashion
    Betulkah Vegan Leather Ramah Lingkungan? image

    Beralih ke produk fesyen yang ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi idaman bagi kelompok-kelompok yang prihatin terhadap kerusakan bumi. Dua dekade lalu, tak semua lapisan masyarakat menyadari betapa besarnya andil industri fesyen pada kerusakan alam. Produk dengan kulit dan bulu hewan asli, penggunaan pewarna pakaian yang limbahnya mencemari perairan, percobaan laboratorium pada hewan, dan masih banyak kejahatan lain demi selembar pakaian.

    Kini, kemajuan teknologi yang dibarengi dengan kesadaran manusia akan lingkungan telah menciptakan aneka bahan dasar produk fesyen berkelanjutan. Tak lagi perlu menggunakan kulit buaya atau bulu cerpelai, bahan pengganti sudah tersedia dengan kualitas tinggi.

    Seperti vegan leather yang beberapa tahun belakangan ini digadang-gadang oleh para desainer mode sedunia. Stella McCartney salah satunya. Sejak 2013, Stella telah mempromosikan penggunaan vegan leather/faux leather pada desain pakaian serta aksesoris miliknya. Merk seperti Zara, TopShop pun perlahan mengikuti dengan mengesampingkan penggunaan kulit hewan sama sekali.

    Vegan leather biasanya terbuat dari dua jenis polimer plastik yaitu, polyurethane (PU) dan polyvinyl chloride (PVC). Kedua bahan ini memiliki tekstur seperti kulit asli yang berkerut-kerut. Dua jenis polimer plastik ini merupakan bahan sintetis yang membuatnya tidak dapat didaur ulang dan sering kali tidak ramah lingkungan karena dalam prosesnya menggunakan zat-zat kimia.

    Leather

    Sumber : www.stellamccartney.com 

    Dilansir dari ecolife.com, PVC termasuk ke dalam jenis plastik yang sulit didaur ulang. Penggunaannya yang berlebihan dan massal pun dapat membahayakan kesehatan serta mencemari lingkungan. Proses pembuatannya pun menimbulkan polusi karena terlepasnya zat-zat kimia serta limbah. Untuk mendaur ulang PVC tidak bisa dilebur total, kemungkinan hanya bisa diubah menjadi produk lain seperti kabel, pipa plastik, dan lainnya.

    Penggunaan PVC untuk bahan utama vegan leather awalnya agar harga produksi jadi lebih murah. Sayangnya tidak semua vegan leather ternyata ramah lingkungan.

    Karena ini, beberapa orang pun berkelit dengan memberi pernyataan bahwa kulit hewan jauh lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan karena tahan lama serta biodegradable. Padahal perlu diingat bahwa menternakkan hewan khusus untuk diambil kulit dan bulunya justru sangat membahayakan spesies hewan-hewan tersebut. Peternakan hewan untuk daging dan kulit juga menjadi penyebab utama deforestasi.


    Kabar baiknya, vegan leather bisa dibuat dengan bahan-bahan alami berbasis nabati / plant based.

    Beberapa vegan leather terbuat dari jamur, dedaunan, daun pisang, buah nanas, kertas daur ulang, serta gabus. Bahan-bahan alami ini dapat didaur ulang dan benar-benar biodegradable. Dengan teknologi pun vegan leather berbasis nabati bisa tahan lama dan mudah perawatannya.

    Sebagai konsumen, kita telah diberikan pilihan atas apa yang ada di pasar. Jika peduli dengan isu lingkungan, tidak membeli sama sekali produk fesyen yang tidak diperlukan sebaiknya selalu dipertimbangkan. Namun jika hendak membeli vegan leather, pastikan untuk memilih yang benar-benar ramah lingkungan dan berbasis nabati. Bijaklah dalam membeli dan jangan terpancing dengan greenwashing. Selalu mencari informasi agar tidak salah pilih.

    PLANTFUL